Smaller Default Larger

Gereja dan Perubahan Sosial - Perspektif Sosiologi-

Gereja dan Perubahan Sosial : Perspektif Sosiologi

Bambang Harjono

Abstraksi.

 

Peran gereja didalam perubahan sosial masyarakat sekitarnya adalah topik besar yang sudah lama di gumulkan. Kajian teorinya adalah bagaimana pola hubungan (interaksi) antara individu dengan masyarakat, individu mempengaruhi masyarakat atau masyarakat mengkondisikan individu. Baik kajian Durkheim dengan teori fakta sosial maupuan Weber dengan teori rasional-etikanya, atau Giddens dengan internalisasi, semua mencoba menggagas bagaimana sebenarnya rasionalisasi dan seorang aktor berperan di dalam perubahan sosial lingkungan masyarakatnya.

 

 

Hal ini barulah kajian sosiologis, belum lagi kajian etis dan teologis dari bagaimana peran gereja di tengah masyarakatnya, masih terdapat jalan panjang yang harus di lalui. Di tengah sepinya kajian peran gereja didapati suatu pengalaman dari Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) yang sudah mengalami terpaan arus Perubahan sosial pada masa perintisan (th 1912, tantangan kemiskinan akibat pengucilan) sampai dengan keberhasilan saat ini (terdapat 56 Jemaat lokal dengan berbagai program holistik memberkati masyarakat). Bagaimana keputusan perubahan yang diambil dan langkah-langkah untuk mengatasi masalah jemaat sampai kepada berdampak kepada masyarakat sekitarnya adalah sebuah pengalaman yang berharga untuk di kaji.

 


 

Sebagai kesimpulan :

 

1.        Peran yang di lakukan oleh GKPB, awalnya tidak direncanakan kedepan untuk masyarakat, tetapi lebih terfokus kepada jemaat sendiri, yaitu bagaimana keluar dari masalah yang di hadapi, termasuk kemiskinan dan bersaksi, tetapi pada waktu berhasil mau tidak mau berdampak pula kepada masyarakat.

2.        Untuk berperan dan berdampak tidak harus menunggu menjadi mayoritas, populasi orang Kristen tetap minoritas, tetapi dampak yang di hasilkan melebihi jumlah bilangan orang percaya.

    

 

 

Kata Kunci : Perubahan Sosial, Peran Gereja, kajian sosiologis.
Gereja dan Perubahan Sosial : Perspektif sosiologi

Manusia dalam kehidupannnya memiliki realita sosial dan realita pribadi. Kedua nya saling terkait dengan begitu rapi sehingga sulit untuk memisahkannya, karena perilaku manusia memiliki ciri individu dan sosial sekaligus. Manusia adalah mahluk individu dan mahluk sosial. Keduanya saling mengisi dan meresapi. Belum lagi ada anggapan bahwa bentuk-bentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda-beda adalah “entitas / ciptaan sendiri” (Veerger, 1985:4).

 

Kedua realita ini penting dan menolong pemahaman kita pada waktu kita membahas peran Gereja dalam perubahan sosial. Tuhan memulai dengan realita pribadi, bagaimana Tuhan mengubah hidup pribadi seseorang lalu orang itu merubah lingkungannya, termasuk orang di sekitarnya sebagai realita sosialnya.

 

Gereja dalam hal ini masuk didalam domain agama dalam kaitannya dengan realitas dan kekuatan sosial, termasuk didalam pandangan Durkheim sebagai kekuatan yang mengikat manusia secara individual[1][1][1]. Artinya gereja selaku institusi sosial bisa mengkondisikan individu-individu anggotanya untuk berperilaku dan bertindak baik dalam ruang lingkup yang kecil kedalam lingkup gereja atupun juga pada akhirnya akan keluar ke ruang lingkup masyarakat.

 

Pada akhirnya jelas bahwa Gereja mampu mempengaruhi masyarakat di sekitarnya untuk masuk ke dalam Perubahan sosial melalui intensi-intensi pola pikir yang diajarkan kepada individu-invidu anggotanya (orang percaya). Meskipun ada juga kajian Peter L. Berger yang menyatakan bahwa justru kondisi masyarakat (Perubahan sosial) yang mempengaruhi gereja melalui modernisasi dan atau sekularisasi yang menjadikan agama (gereja) harus bersikap, menerima atau menolak (kalau mampu menolak). Tetapi pada kenyataannya justru tidak dapat di hindari[2][2][2]. (Berger editor, 2003:19-20).

 

Pertanyaannya adalah: “Kalau begitu apakah mungkin menjadikan Gereja sebagai agent perubah sosial masyarakat di tengah arus modernisasi dan sekularisasi yang menggejala di semua aspek kehidupan masyarakat sekarang ini ?” Dari realita itu membawa kita kepada kesadaran akan urgensi Gereja dan orang percaya untuk menghadapi dan berperan didalam perubahan sosial masyarakatnya .
Dalam hal ini terdapat pengalaman menarik yang dialami oleh Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) yang ada di tengah masyarakat Bali.

 

 

Profile masyarakat Bali.

 

Sekitar abad 8 - 14 Masehi, Agama Hindu masuk ke Bali dengan hijrahnya petinggi-petinggi kerajaan Majapahit dari Jawa ke Bali di pimpin oleh patih Gadjah Mada. Pada waktu itu terjadi penyerangan dan pendudukan Patih Gadjahmada terhadap raja Bedahulu dan putranya. Dan mulailah penguasaan Majapahit di Bali di tandai dengan berganti-gantinya pemerintahan dinasti kerajaan di Bali.

 

Periode berikutnya th. 1846 - 1949 di tandai dengan pendudukan Belanda. Belanda menyerang Bali karena raja-raja bali di pandang tidak mau tunduk kepada aturan - aturan Belanda[3][3][3], dan mulailah perlawanan terhadap Belanda. Raja-raja Bali di dukung oleh raja-raja dari Lombok yang merasa di rugikan oleh Belanda. Mulailah bangkit rasa nasionalisme yang anti kepada Belanda. (Sejarah Bali, https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah Bali).

 

Pada jaman republik, Bali dikukuhkan sebagai salah satu propinsi dari 24 propinsi dan salah satu pulau dari 17 ribu pulau Indonesia. Luas area Bali adalah 5.636,6 km2 Masyarakatnya berpenduduk 3,5 - 4 juta sampai dengan tahun 2009[4][4][4].

 

Sekarang ini Bali menarik perhatian dunia karena unsur struktur masyarakat tradisional toleran dan alam tropis[5][5][5]. Jika di lihat jumlah kumulatif setahun wisatawan yang datang (belum lagi wisatawan lokal) bisa lebih besar jumlahnya dari penduduk Bali. Pasti hal ini membawa dampak pencampuran budaya sebagai industri pariwisata bagi masyarakat Bali. 

 

Bukan hanya pariwisata, Iklim tropis dengan kondisi alam yang terbuka membawa ketertarikan ilmuwan, Sam Phillips dalam artikel yang dia tulis[6][6][6] menulis sebagai berikut :

 

Kunjungan saya ke Bali hortikultura adalah luar biasa, memperkaya pengalaman, dan satu yang saya akan ingat sisa kedepan hidup saya. Ini adalah sebuah pulau yang menakjubkan. Aku pergi dengan tujuan belajar lebih banyak tentang tanaman dari Indonesia, dan ini saya capai, tapi aku juga belajar banyak tentang bagaimana tanaman ini digunakan, dikelola dan dirasakan oleh orang-orang di wilayah tersebut.

Hampir setiap tanaman saya datang di punya beberapa penggunaan praktis atau budaya, dan sebagian besar orang yang saya temui di sana tampaknya memiliki pengetahuan yang mendalam tentang flora asli mereka. Ada hubungan yang nyata antara Bali dan lingkungan mereka, dan ini adalah kesan utama dari pulau yang saya ambil dengan saya

 

Disamping itu masalah sosial kultural juga menjadi daya tarik dunia, seperti contoh masalah micro enterprice sudah di kerjakan di kampung Gitgit di Pulau Bali, terdapat  sebuah projek pemberdayaan ekonomi masyarakat yang di kerjakan Tearfund international (sebuah Non Goverment Organization yang bergerak di bidang Community development)berkerja sama dengan yayayasan lokal Wahana Kria Putri (WKP) menyediakan pinjaman, pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin, pada tahun 2005 tingkat pengembalian pinjaman mencapai 98% (publikasi Tearfund International, Bali microenterprice Project Changing Lives, http://www.tearfund.org.nz/content/File/ Project_Catalogue_PDFs/BALI.pdf).

 

Profile Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB).

 

Pada saat ini GKPB (Gereja Kristen Protestan Bali) memiliki 58 Jemaat, 2 English Speaking Congregation (ESC), 17 Balai Pembinaan Iman (BPI) yang tersebar di delapan kabupaten dan kodya di seluruh pulau Bali, dengan total warga jemaat sebanyak 11.330 jiwa, menurut statistik jemaat tahun 2008.

 

Jemaat GKPB bali jika dihitung proporsi dari jumlah orang kristen di Bali adalah 43,65% dari 25.780 jiwa orang kristen (data tahun 2006[7][7][7]), berarti termasuk mayoritas orang kristen di Bali adalah jemaat GKPB. (Gunaraksawati Mastra 2009:3). 

 

Jemaat sebesar itu dimulai dengan 12 orang Bali yang dibabtis pada pelayanan Pdt. R.A Jaffry di Tukad Yeh Poh, Dalung Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung, Bali. Sebelumnya mereka dilayani oleh Tsang To Han seorang penginjil dari CMA (Christian Missionary Alliance) yang pelayanan di Bali pada tahun 1929, melalui satu keluarga orang Cina (Tsang To Han) yang dengan perempuan Bali di Denpasar. (Sejarah Gereja Bali)[8][8][8] 

 

Pada tahun 1910 Gereja Kristen di Jawa Timur yang mayoritas petani dan di desa, masih berada di bawa perwalian Zending. Karena waktu itu terjadi kebangkitan nasional dan banyak orang Kristen yang berpindah ke kota, sehingga para zending pun mulai memfokuskan diri ke palayanan yang di kota. Gereja Kristen di Jawa Timur dan Zending pada waktu mulai membimbing dan bersama-sama mengasuh kelompok-kelompok Kristen yang mulai tumbuh di Bali. (End and Weitjens. 1999:258-259)

 

Melalui proses yang panjang cikal bakal GKPB ini baru mendapat pengesahan sebagai badan hukum No:8 Tanggal 11 Agustus 1949 secara resmi menjadi Gereja Kristen Protestan Bali, dengan staadblat nomer 214 dengan domisili di Blimbing Sari, di Bali Barat.

 

Melihat perkembangan yang sangat sulit, yaitu masa 20 tahun pada tahap perintisan (1929 - 1949) dan 20 tahun tahap pengembangan (1940 - 1969 an), GKPB sudah menjadi jemaat yang menyebar di 9 kabupaten Bali dan Kodya Denpasar. Hal ini memang jelas melihat kultur dan kepercayaan lama yang tidak harmonis hubungannya dengan Kekristenan secara umum. Sejak Hindu masuk ke Bali (abad 15 Masehi[9][9][9]) kultur kelompok masyarakat sangat kuat, sehingga jika ada yang percaya dan menjadi Kristen (berbeda dengan kepercayaan yang lama) maka orang tersebut akan di kucilkan dan bukan hanya di hapus dari daftar keturunan tetapi bisa jadi kehilangan warisan, mata pencaharian dan itu berarti kabar buruk bagi yang bersangkutan[10][10][10].

 

Dari tantangan yang di hadapi, rupanya GKPB di Bali bisa mengatasi dan menjadi gereja yang bertumbuh, baik secara kuantitatif, jumlah jemaat yang di layani (dengan proporsi 50% swasta), maupun jumlah aset yang di miliki gereja (Secara ekonomi). Dari tahun 2003 sampai dengan 2007 aset gereja bertumbuh 9,92% pertahun dengan total aset th 2008 mendakati 100 milyard rupiah. (Gunaraksawati Mastra, 2009:49-50).

 

Tanggapan gereja GKPB terhadap masalah kemiskinan.

 

Apa yang di hadapi anggota jemaat pada masa perintisan sebetulnya juga menjadi masalah umum pada waktu itu, yaitu masalah kemiskinan karena sektor industri pariwisata belum berkembang[11][11][11].

                                                                                                  

Menyadari akan tantangan dari luar yaitu kondisi sosio kultural dan ekonomi yang ada, gereja menganalisa kondisi waktu itu sebagai berikut :

 

1.        Gereja menjadi daya tarik bagi kalangan kasta rendah di masyarakat Bali, yaitu kaum buruh dan tani yang tidak berlahan dan miskin. Mereka selain pertobatan pribadi percaya kepada Yesus juga di dorong ingin telepas dari ritual dan kewajiban-kewajiban kepercayaan lama yang membebani mereka, baik spiritual maupun ekonomi.

2.        Orang Kristen menghadapi tantangan pengucilan dan isolasi dari akses ekonomi atau pekerjaan pada waktu mereka menjadi orang percaya. Sehingga bukan saja mereka yang percaya adalah dari kasta rendah menghadapi lagi tantangan yang semakin mendorong beban ekonomi mereka kepada kemiskinan yang semakin dalam.

3.        Gereja sendiri adalah gereja yang baru bertumbuh sehingga sulit untuk membeayai operasional gereja termasuk gaji pendeta, sehingga harus bergantung kepada bantuan dari pihak lain.

4.        Belum lagi ajaran gereja pada waktu itu (sebelum th 1972) masih tertuju kepada keselamatan surgawi, bukan mengakar kepada kesadaran holistik.

 

Maka diidentifikasi permasalahan utama selain masalah spiritual, adalah masalah kemiskinan. Maka sejak tahun 1972 Gereja menghadapi masalah kemiskinan ini dengan memutuskan untuk :

 

1.        Mengusahakan kemandirian terutama dari segi dana.

2.        Melaksanakan misi secara holistik.

 

Semua ini diawali dengan dikembangkan konsep-konsep teologi yang kontekstual[12][12][12] dengan masyarakat Bali, dan sosialisasinya di tuangkan dalam kotbah, dan praktek program gereja yang dibuat. (Gunaraksawati Mastra 2009:51-53).

 

Disamping itu dibuatlah program pelayanan kepada masyarakat dari Gereja, yang dirintis dalam bentuk kecil dikembangkan sampai menjadi beberapa buah bentuk pelayanan kepada masyarakat yang besar, sampai saat ini. Yaitu :

 

1.        Yayasan Dyana Pura membuka Hotel resor Dyana Pura. Pusat Pembinaan, Pelatihan Ketrampilan dan Penginapan Dhyana Pura. Dibangun di lahan 3 Ha di seminyak, kapasitas 125 Kamar tahun 2008.

2.        Sekolah Perhotelan dan Pariwisata PPLP (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Periwisata) setara D3 dan STIM (sekolah Tinggi Ilmu Management) setara S1.

3.        Unit usaha dibawah Yayasan Maha Bhoga Marga (MBM). Bergerak di bidang pelatihan dan penyediaan pinjaman pada microenterprice[13][13][13].

 

Dari program gereja diatas banyak penduduk Bali yang bukan anggota gereja juga turut menikmati dan mendapat manfaat dari program tersebut. Karena memang masalah ketrampilan lalu berkaitan dengan lapangan kerja, dan akhirnya pendapatan keluarga menjawab kebutuhan bagi masyarakat umum.

 

Gereja Kristen Protestan Bali di tengah masyarakat Bali.

 

Peran Gereja di tengah masyarakat yang berubah adalah menjadi krusial saat ini. Persoalannya adalah apakah setiap Gereja memahami akan perannya ? Jika di kaji lebih mendalam sebetulnya tidak ada pilihan lain bagi gereja, sebab gereja adalah bagian dari masyarakat, apa yang terjadi di masyarakat akan mempengaruhi gereja, begitu juga apa yang terjadi di gereja akan berdampak juga ke masyarakat.

 

GKPB pada mulanya mendapat pengesahan sebagai Gereja di desa Blimbingsari, suatu desa kecil di kecamatan Malaya, Kabupaten Jemberana. Dimana peran orang Kristen tampak jelas dari mulai pembukaan desa (1939, bersama dengan orang Hindu) sampai dengan saat ini masih dikenal sebagai desa Kristen, dan terdapat kemajuan-kemajuan dari pembangunan karena terdapat hubungan yang baik dan harmonis antara perbekel dan pendeta.[14][14][14] 

 

Sebagai kesimpulan :

1.    Peran yang di lakukan oleh GKPB, awalnya tidak direncanakan kedepan untuk masyarakat, tetapi lebih terfokus kepada jemaat sendiri, yaitu bagaimana keluar dari masalah yang di hadapi, termasuk kemiskinan dan bersaksi, tetapi pada waktu berhasil mau tidak mau berdampak pula kepada masyarakat.

2.    Untuk berperan dan berdampak tidak harus menunggu menjadi mayoritas, populasi orang Kristen tetap minoritas, tetapi dampak yang di hasilkan melebihi jumlah bilangan orang percaya.

 

Orang Kristen Bali semula tidak percaya bahwa Bali adalah sorga dunia, yang menamai itu adalah turis dan mereka yang bisa hidup dari industri pariwisata, tetapi orang Kristen Bali percaya “penyorgaan Bali” tidak dapat hanya di kerjakan oleh sekelompok orang perlu keterlibatan semua golongan penduduk Bali” demikian kata Usadi Wiryatnaya, (Wiryatnaya, “Bali dalam pandangan Orang Kristen Bali” dalam Wiryatnaya & J. Cateau. 1995:163).

Crouch mengatakan : “Tugas mengubah dunia bisa di lihat sebagai suatu tugas besar, tetapi juga bisa dilihat sebagai tugas sehari-hari yang harus kita jalani sembari meniti jalan kehidupan bersama Kristus kepala gereja” (Crouch 2011:169).

 

 

Daftar Pustaka :

 

Anonymous, 1995., Agama Masyarakat dan Negara. Kumpulan karangan Smeinar Agama-agama XIII/1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Jakarta.

 

Bali dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Denpasar Bali.

 

Berger, P.L., 2003. Kebangkitan Agama Menantang Politik Dunia. Terjemahan. Penerbit Arruzz. Jogjakarta.

 

BPH-PGI, 1980. Sikap Kristen terhadap modernisasi dan pengaruhnya terutama pada jemaat desa/ kota kecil. Bab.IV. Peninjau, Tahun VII, Nomor 2. MAjalah Lembaga Penetian dan Studi PGI, Jakarta.

 

Crouch, A., 2011. Culture Making (menciptakan kebudayaan). MEnciptakan kembali panggilan kreatif kita. Cetakan pertama. Terjamahan. Literatur Perkantas Jawa Timur.

 

Den End, Th. V and Weitjens T. 1999. Ragi Ceritera 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860 an - sekarang. Cetakan III. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

 

Mastra, Gunarekasawati. M., 2009. Teologi Kewirausahaan. Konsep dan Praktek Bisnis Gereja Kristen Protestan Bali. Taman Pustaka Kristen dan Universitas Kristen Duta Wacana. Jogjakarta.

 

Veerger, K.J., 1986. Realitas Sosial - refleksi filsafat sosial atas hubungan individu-masyarakat dalam cakrawala sejarah sosiologi. Gramedia, Jakarta.

Wiryatnaya,U & J.Cateau. 1995. Bali dipersimpangan jalan. Vol.2. Nusadata Indobudaya, Denpasar, Bali and The University of Michigan USA.

 



[1][1][1]Eka Dharmaputera “Agama, Masyarakat dan Negara” hal 23. Makalah dalam seminar Agama-agama XIII/1993 oleh PGI. dalam Anonymous, 1995.

[2][2][2] Isu yang disampaikan Berger dalam bukunya Kebangkitan Agama menentang polik dunia, sebetulnya bukan sekedar arus modernitas dan sekulerasasi yang menghantam agama /gereja, (bukan sebaliknya) melainkan diyakini bahwa bentuk hubungan agama (gereja) dan masyarakat (Modernisasi dan sekularisasi) itu sendiri adalah tidak sederhana (Berger 1985:16-20).

[3][3][3] Peninggalan penyerangan Belanda tahun 1849 sampai sekarang adalah perbentengan Belanda di Jagaraga, Sawan, Buleleng.

[4][4][4] Bali dalam angka 2010:3 dan 83

[5][5][5] Tahun 2013 tercatat 2,9 juta turis mancanegara naik 11% dari tahun 2012. Sumber web resmi Pemerintah Provinsi Bali http://www.disparda.baliprov.go.id/id/Statistik2.

[6][6][6] Sam Phillips, travel report. The People and Plants of Bali, Indonesia. (http://www.merlin-trust.org.uk/Assets/reports/547%20Sam%20Phillips.pdf).

[7][7][7] Meskipun orang Kristen tetap minoritas bila dilihat dari jumlah penduduk Bali keseluruhan yaitu 3.422.600 (yaitu 25.780 orang kristen atau hanya 0,75% tahun 2006. (http://bali.bps.go.id/index.php).

[8][8][8] Didownload dari web resmi GKPB Bali, http://gkpb.abianbase.com/page/Sejarah-Gereja-Bali-GKPB.aspx 10 Juni 2014.

[9][9][9] Sejarah Bali. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Bali, 10 Juni 2014.

[10][10][10] Bakan menurut ceritera penginjil dari Belanda (J.De Vroom) yang membabtis orang bali pertama kali tahun 1873 mati dibunuh justru oleh orang yang dia babtis pertama kali tersebut pada tahun 1881. Hal ini menggambarkan betapa beratnya pengucilan yang di alami oleh petobat baru. (Gunaraksawati Mastra, 2009:4).   

[11][11][11] Data menunjukkan th. 1996 penduduk miskin mencapai 227.000 dan menjadi 185.200 tahun 2014 (http://bali.bps.go.id/tabel_detail.php?ed=615001&od=15&id=15).

[12][12][12] Didalam bukunya Gunaraksawati memberikan beberapa bab khusus berkenaan dengan teologi I Wayan Mastra, bishop GKPB yang peretama kali membawa perubahan teologi di GKPB, dan tokoh-tokoh GKPB lainnya. Seperti contoh teologi lima jari, teologi kelelawar, Kucing dan anjing dsb. (Gunaraksawati Mastra, 2009:57-85).

[13][13][13] Untuk lebih detail tentang gerak pelayanan Maha Bhoga Marga bisa di akses http://mahabhogamarga.org/

[14][14][14] Seperti hasil penelitian survey dari BPH-PGI, tahun 1980 yang meneliti sikap Kristen terhadap Modernisasi dan pengaruhnya terutama pada jemaat desa / kota Kecil, dimana Jemaat Bali (Abianse, Blimbingsari dan sekitar Buleleng) menjadi salah satu desa yang di teliti. (1980.Peninjau, Th VII, Nomor 2. Bab IV).

 

 

 

Gereja dan Perubahan Sosial : Perspektif Sosiologi

 

Ir Bambang Harjono, M. Si.



     

Gereja dan Perubahan Sosial : Perspektif sosiologi

Manusia dalam kehidupannnya memiliki realita sosial dan realita pribadi. Kedua nya saling terkait dengan begitu rapi sehingga sulit untuk memisahkannya, karena perilaku manusia memiliki ciri individu dan sosial sekaligus. Manusia adalah mahluk individu dan mahluk sosial. Keduanya saling mengisi dan meresapi. Belum lagi ada anggapan bahwa bentuk-bentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda-beda adalah “entitas / ciptaan sendiri” (Veerger, 1985:4).

Kedua realita ini penting dan menolong pemahaman kita pada waktu kita membahas peran Gereja dalam perubahan sosial. Tuhan memulai dengan realita pribadi, bagaimana Tuhan mengubah hidup pribadi seseorang lalu orang itu merubah lingkungannya, termasuk orang di sekitarnya sebagai realita sosialnya.

Gereja dalam hal ini masuk didalam domain agama dalam kaitannya dengan realitas dan kekuatan sosial, termasuk didalam pandangan Durkheim sebagai kekuatan yang mengikat manusia secara individual[1]. Artinya gereja selaku institusi sosial bisa mengkondisikan individu-individu anggotanya untuk berperilaku dan bertindak baik dalam ruang lingkup yang kecil kedalam lingkup gereja atupun juga pada akhirnya akan keluar ke ruang lingkup masyarakat.

Pada akhirnya jelas bahwa Gereja mampu mempengaruhi masyarakat di sekitarnya untuk masuk ke dalam Perubahan sosial melalui intensi-intensi pola pikir yang diajarkan kepada individu-invidu anggotanya (orang percaya). Meskipun ada juga kajian Peter L. Berger yang menyatakan bahwa justru kondisi masyarakat (Perubahan sosial) yang mempengaruhi gereja melalui modernisasi dan atau sekularisasi yang menjadikan agama (gereja) harus bersikap, menerima atau menolak (kalau mampu menolak). Tetapi pada kenyataannya justru tidak dapat di hindari[2]. (Berger editor, 2003:19-20).

 

 

Pertanyaannya adalah: “Kalau begitu apakah mungkin menjadikan Gereja sebagai agent perubah sosial masyarakat di tengah arus modernisasi dan sekularisasi yang menggejala di semua aspek kehidupan masyarakat sekarang ini ?” Dari realita itu membawa kita kepada kesadaran akan urgensi Gereja dan orang percaya untuk menghadapi dan berperan didalam perubahan sosial masyarakatnya .
Dalam hal ini terdapat pengalaman menarik yang dialami oleh Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) yang ada di tengah masyarakat Bali.

 

Profile masyarakat Bali.

Sekitar abad 8 - 14 Masehi, Agama Hindu masuk ke Bali dengan hijrahnya petinggi-petinggi kerajaan Majapahit dari Jawa ke Bali di pimpin oleh patih Gadjah Mada. Pada waktu itu terjadi penyerangan dan pendudukan Patih Gadjahmada terhadap raja Bedahulu dan putranya. Dan mulailah penguasaan Majapahit di Bali di tandai dengan berganti-gantinya pemerintahan dinasti kerajaan di Bali.

Periode berikutnya th. 1846 - 1949 di tandai dengan pendudukan Belanda. Belanda menyerang Bali karena raja-raja bali di pandang tidak mau tunduk kepada aturan - aturan Belanda[3], dan mulailah perlawanan terhadap Belanda. Raja-raja Bali di dukung oleh raja-raja dari Lombok yang merasa di rugikan oleh Belanda. Mulailah bangkit rasa nasionalisme yang anti kepada Belanda. (Sejarah Bali, https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah Bali).


[1] Eka Dharmaputera “Agama, Masyarakat dan Negara” hal 23. Makalah dalam seminar Agama-agama XIII/1993 oleh PGI. dalam Anonymous, 1995.

[2] Isu yang disampaikan Berger dalam bukunya Kebangkitan Agama menentang polik dunia, sebetulnya bukan sekedar arus modernitas dan sekulerasasi yang menghantam agama /gereja, (bukan sebaliknya) melainkan diyakini bahwa bentuk hubungan agama (gereja) dan masyarakat (Modernisasi dan sekularisasi) itu sendiri adalah tidak sederhana (Berger 1985:16-20).

[3] Peninggalan penyerangan Belanda tahun 1849 sampai sekarang adalah perbentengan Belanda di Jagaraga, Sawan, Buleleng.

 

 

 

Visitors Counter

000084250
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
307
308
615
78718
6147
9557
84250

Your IP: 54.196.182.102
Server Time: 2017-12-11 21:57:27