Smaller Default Larger

Meluruskan Perjuangan Perempuan

Meluruskan Perjuangan Perempuan

Oleh

Aripin Tambunan

Seharusnya yang patut diperjuangkan perempuan saat ini adalah, melawan sistem pemikiran budaya posmodern yang bersinergi dengan kapitalisme untuk menjadikan perempuan (tubuh, gairah, dan kecantikannya), sebagai barang komoditi maupun metakomoditi.

Pendahuluan

Di dalam budaya postmodern, khususnya posmodernisme dekonstruktif (deconstructive postmodernism), segala macam bentuk otoritas tidak lagi berlaku. Wacana kebebasan mendominasi aspek pemikiran maupun aspek perilaku yang memunculkan paradigma-paradigma baru di dalam berkehidupan.  Apa yang tadinya disebut rasa malu, rasa berdosa, rahasia (ruang private), dan religius, kini telah digantikan dengan sebutan baru, rasa kewajaran (normal) bukan malu dan berdosa, materialitas merupakan hal yang wajar, ketelanjangan (obscenity) menjadi milik publik, dan sekularitas adalah tujuan tertinggi dari kehidupan.

Pemikiran posmodernisme dekonstruktif ini berdampak kepada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Sebagian para pemuda menyongsongnya dengan sukacita karena mendapatkan kebebasan dari  hasratnya (seks) yang terkekang selama ini di dalam norma-norma yang berlaku, Para kapitalis menyongsongnya dengan sangat gembira, sebab dengan kehadiran budaya postmodern tersebut akan lebih mudah baginya untuk mendapatkan tambahan  komoditi yang akan dijual ataupun tambahan komoditi yang dipergunakan untuk menjual komoditi-komoditi lainnya (metakomoditi).[1]

 

Pengaruh postmodern dekonstruktif ini mempengaruhi pola pikir dan perilaku sebagian perempuan. Hal tersebut menyebabkan sebagian perempuan terjatuh dari harkatnya yang punya kemuliaan dan hormat, menjadi suatu komoditi yang memiliki nilai guna, nilai tukar, dan nilai tanda. Nilai gunanya: perempuan dapat menjadi karyawan, prostitusi, dan pelayan; nilai tukarnya, gadis model, gadis peraga, dan hostess; nilai tandanya, erotic magazine, erotic art, majalah porno, erotic film, dan erotic photo graphy.[2]

Sekalipun perempuan telah terperosok ke dalam permainan budaya postmodern ini, para pejuang feminis tetap masih berkutat pada dua bidang berikut ini: pertama, tuntutan kesamaan hak atau kesetaraan, untuk mendapatkan hak pilih (feminisme gelombang pertama); kedua, tentang identitas dan hirarki gender (gelombang kedua). Meskipun pada tahun 1970-an di Amerika, terlihat adanya gerakan feminis yang menentang media atas perendahan diri mereka dan stereotype citra perempuan, namun tidak sampai menyentuh pada tingkat perempuan sebagai komoditi dan metakomoditi.

Begitu juga dengan konferensi Women’s Liberations pada tahun 1970, yang diadakan di Universitas Ruskin, Oxford, masih berkutat dalam hal-hal: 1) kesetaraan gaji; 2) kesetaraan pendidikan dan kesempatan kerja; 3) 24 jam perawatan anak-anak; 4) kontrasepsi dan aborsi gratis.

Di Indonesia perjuangan perempuan lebih focus kepada politik dan kekerasan. Data Komnas Perempuan tahun 2008 menyatakan bahwa 54.425 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, dan 75.5 % korban kekerasan tidak mendapat pemulihan. Faktor utama kekerasan tersebut dipicu oleh masalah kesulitan ekonomi.[3] Hal ini diutarakan oleh Netty Prasetiyani Heryawan, selaku ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan anak (P2TP2A), propinsi Jawa Barat. Pada bidang politik, perempuan Indonesia berjuang untuk mendapatkan 30% kursi di parlemen.

Pada hal masalah perempuan yang paling penting untuk diperjuangkan adalah masalah perempuan  disamakan dengan produk-produk lain yang dapat di pamerkan, dipertontonkan, dipromosikan, dan dijual layaknya suatu barang komoditi dan metakomoditi.

 

Perempuan sebagai “Barang Komoditi dan metakomoditi”

Menurut Dominic Strinati, lahirnya posmodernisme mempunyai keterkaitan dengan konsumerisme dan penjenuhan media. Terjadinya pergeseran ekonomi kapitalis dari produksi menjadi konsumsi.[4] Artinya, pada abad 20, kebutuhan ekonomi kapitalis bukan lagi produksi, tetapi konsumsi. Karena itu, para kapitalis melihat ini sebagai peluang usaha baru di era abad 20.

Karena ekonomi berubah  ke arah konsumsi, maka untuk dapat menjual barang konsumsi dengan baik diperlukan iklan. Iklan memainkan perannya untuk membuat citraan tentang produk. Citraan tentang produk ini tidak lagi dibuat untuk menjelaskan apa sebenarnya manfaat dari suatu produk tersebut, namun lebih ditujukan kepada model, gaya, dan artificialnya. Tidak jarang untuk membuat citraan produk ini dipergunakanlah perempuan (dengan melihat tubuh, gairah, dan kecantikannya), sebagai sesuatu yang harus ditonjolkan. Pembuatan citraan produk seperti ini, sangat merendahkan perempuan, apakah perempuan hanya mimiliki sisi sisi tersebut saja? Dimanakah kemuliaan dan hormat yang dimiliki perempuan itu?

Di sisi lain, ekonomi konsumsi memaksa seseorang untuk berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif jika tidak dibarengi dengan penghasilan yang memadai, akan membawa kepada kehancuran diri. Tidak heran beberapa perempuan yang terjatuh pada perilaku konsumtif, akan terjatuh kepada penjualan diri (menjadi barang komoditi) dan metakomoditi. Barang komoditi karena memiliki nilai tukar (gadis model, gadis peraga) dan nilai tanda (erotic magazine dan erotic art),[5] dan metakomoditi karena dapat dipergunakan untuk menjual komoditi-komoditi lainnya.

Stoler (1983) dalam penelitiannya tentang perempuan menjelaskan bahwa, perempuan-perempuan muda dari Jawa di datangkan untuk memenuhi kebutuhan seksual laki-laki yang bekerja  diperkebunan kopi Sumatera Timur.[6] Dengan demikian, perempuan diperlakukan sebagai barang komoditi.

Penelitian yang lebih dini yang dilakukan oleh Gedenboek DPV (1929), menjelaskan bahwa perkebunan kopi sangat menyukai pekerja perempuan, karena dapat dibayar jauh lebih rendah dari upah yang harus dibayar kepada pekerja laki-laki. Namun karena upah yang terlalu rendah, akibatnya para perempuan tersebut harus melacurkan dirinya agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.[7]

Baca selengkapnya dengan mendownload link di bawah ini

 

Visitors Counter

000065863
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
247
314
247
63717
6868
9900
65863

Your IP: 54.224.50.28
Server Time: 2017-10-22 13:29:35