Smaller Default Larger

Etika Kristen Melampaui Etika Alamiah

Oleh

Aripin Tambunan

Pendahuluan

Bila dilihat dalam ranah Filsafat, maka persoalan etika sebenarnya telah terlihat nyata dalam kehidupan Yunani klasik. Para sofis telah muncul sebagai ahli pikir yang kritis, namun tidak lagi mengutamakan kebenaran. Bagi mereka yang terpenting adalah memenangkan perdebatan, itu sebabnya mereka lebih mengembangkan ilmu retorika. Mereka menghantam sendi-sendi moralitas yang ada dengan satu pemikiran moralitas baru dengan berkata, bahwa “baik” dan “buruk” merupakan masalah keputusan bersama daripada suatu aturan abadi. Menurut mereka aturan tidak abadi, apalagi dapat berlaku umum. Itu sebabnya mereka mengeluarkan pemikiran-pemikiran baru, di mana dua orang yang terkenal dari mereka adalah Protagoras, “Manusia adalah ukuran segalanya” (kebenaran relatif, kebenaran tidak lagi tergantung pada isi) dan Georgias, “Kebenaran itu memang sudah tidak ada lagi, (Nihilisme).

 

 

Bila manusia ukuran segalanya, maka ”baik” dan ”buruk” pun adalah soal masalah kesepakatan bersama saja, tidak lebih dari itu. Akibatnya norma etika hanya dapat berlaku pada suatu tempat tertentu dengan kesepakatan bersama. Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal di suatu desa yang keseluruhannya mereka memiliki pekerjaan sebagai perampok, akan membuat aturan etika bagi mereka dengan kesepakatan bersama, bahwa barang siapa dapat merampok lebih besar dan sadis, maka ia adalah manusia bermoral dan terhormat. Dan barang siapa yang tidak melakukan perampokan adalah orang yang tidak bermoral. Ukuran moral tergantung dari ”siapa”  dan ”di kelompok mana Anda berdiri sebenarnya.

Pemikiran seperti ini mendapat banyak tantangan dari para filsuf sejati yang bukan sofis. Mereka mengeluarkan teori-teori etika, seperti imperatif kategoris, bahwa hukum moral ada di bathin dan sifatnya wajib  (Kant),  demikian juga dengan etika imperatif tanggungjawab, yang memberikan dalil perlunya tanggungjawab untuk kelangsungan umat manusia dari Hans Jonas[1], dan etika hukum kodrat (Thomas Aquinas), dimana hidup menurut hukum kodrat bukanlah untuk hidup sesuai dengan peraturan Tuhan. Tetapi memang sesuai dengan hidup yang meski dijalankan manusia. Hal tersebut terjadi karena manusia memiliki hati nurani.[2]

Pemikiran-pemikiran tersebut berkembang dengan pesat, bahkan sampai memunculkan etika nihilisme. Namun kemudian beberapa pemikir kontemporer seperti Umberto Eco, magnis Suseno, dll., berdiri ditengah dengan menempatkan etika alamiah sebagai etika yang paling rasional ketimbang etika yang lainnya. Memang etika tersebut rasional, namun memiliki keterbatasan-keterbatasan atau ”belum lengkap” sebagai etika yang mumpuni. Mengapa? Hal itulah yang mau dijelaskan dalam artikel ini.

Keterbatasan Etika Alamiah

Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa tindakan yang ia lakukan itu “benar” atau “salah”? Berkaitan dengan itu, telah ada empat teori yang dibangun, yaitu: pertama, tindakan itu dapat dikatakan “benar” dan “salah” karena Tuhan yang menentukannya melalui sabda-Nya. Kedua, manusia memiliki “kesadaran moral” dan “intuisi”, sehingga dapat langsung mengetahui apakah itu “benar atau “salah”. Ketiga, aturan etika adalah hasil evolusi social yang datang secara berangsur-angsur, sehingga aturan etika muncul dan berkembang dalam rangka menjawab kebutuhan akan kedamaian dan kerjasama social. Keempat, etika adalah hanyalah ilusi, sebagaimana yang dikembangkan oleh etika nihilism dan skeptisisme.[3]

            Dua metode pendekatan teori etika yang ada, yaitu: teori identifikasi dengan metode induktif (aposteriori) dan teori pengujian pertimbangan moral dengan metode deduktif (apriori).[4] Teori identifikasi menganalisa apakah pertimbangan etis seseorang atas perilaku atau perbuatannya dapat dikatakan “benar” atau “salah”. Dan apakah pertimbangan tersebut berlaku umum dan tidak berubah-ubah (ajek). Bila berlaku umum, dengan mempergunakan prinsip atau kaidah seperti apa? Sementara teori pegujian pertimbangan moral, bersifat menguji teori etika yang telah ada. Seseorang tidak mempergunakan teori yang sudah ada untuk melihat dan menerapkan pertimbangan etis, tetapi menguji teori tersebut dengan pemahaman etis yang ia dapatkan melalui pertimbangan tentang tujuan etika tersebut. Jika tujuan telah di dapat, maka perlu mendefenisikan kaidah-kaidah apa yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

            Berkaitan dengan judul tulisan ini, maka teori etika yang ingin diperlihatkan keterbatasannya adalah teori yang kedua dari empat teori di atas, yakni teori etika alamiah. Di mana manusia memiliki kesadaran moral dan intuisi untuk dapat melakukannya secara langsung dalam berkehidupan. Etika alamiah sebagaimana yang diungkapkan oleh Magnis Suseno mengatakan, tak ada yang dapat mutlak mewajib kan sesuatu kepada saya kecuali kesadaran saya sendiri.[5] Alasannya adalah, karena tidak akan ada satu pertimbangan etis yang dihasilkan oleh masyarakat atau institusi manapun yang dapat langsung mengikat bathin seseorang tanpa melewati pintu kesadaran moralnya.[6] Kesadaran moral ini sebenarnya pertama-tama diungkapkan oleh Kant, dengan prinsip imperative kategoris[7] dan imperative hipotetis[8].

            Selanjutnya Magnis memberikan pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalam kesadaran moral itu[9], yakni: norma-norma moral berlaku umum dan terbuka terhadap pembenaran dan penyangkalan.

            Melihat dua metode pendekatan teori etika di atas, maka etika alamiah masuk ke dalam metoda induktif (aposteriori). Sebab etika alamiah berusaha untuk mengidentifikasi pertimbangan etis seseorang melalui kesadaran moralnya. Identifikasi tersebut mewajibkan seseorang untuk melakukan yang “benar” yang berlaku umum dan menolak yang “buruk”, sehingga etika yang diejawantahkan seseorang datang secara alamiah dari dirinya sendiri.

      Etika pada awalnya tidak mungkin datang dari dalam diri seseorang, etika harus datang dari luar diri manusia itu sendiri. Sebab darimana ia peroleh aturan-aturan tersebut, tentu dari luar dirinya, apakah itu dari ayah/ Ibu, komunitasnya, budayanya, agama atau bangsanya. Tidak mungkin seseorang yang baru lahir, dapat memiliki etika tanpa keterlibatan pihak luar (ayah/ Ibu, lingkungan/ budaya, agama). Ia baru dapat mengembangkan etikanya sendiri ketika ia telah menjadi dewasa, tetapi sekalipun demikian, etika dasar (baca: bawaan) tetap sedikit banyaknya melekat pada orang tersebut. Dan saya kira seluruh system etika bersifat demikian, di bangsa manapun, dibudaya manapun, bahkan individu sekalipun. Hal ini senada dengan apa yang diutarakan oleh Andre Comte, bahwa etika datang kepada seseorang dari masa lalu yang berakar di dalam sejarah untuk masyarakat yang dimulai sejak masa kanak-kanak, namun tidak menutup kemungkinan untuk dikritisi bahkan dapat memberikan suatu inovasi dalam etika yang dipegangnya selanjutnya.[10] 

 

 

Visitors Counter

000084246
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
303
308
611
78718
6143
9557
84246

Your IP: 54.196.182.102
Server Time: 2017-12-11 21:56:22